Minggu, 16 November 2014

Manfaat Informatika

Sejak saya mengikuti kegiatan KKN-Tematik ITB 2014, pikiran saya mulai dihantui dengan pertanyaan sederhana,

Apa yang bisa saya berikan untuk masyarakat dengan keilmuan saya?

Saya berpikir dan saya tidak tahu. Saya selalu berasumsi bahwa tidak ada metode yang tepat bagi saya adalah karena dasar keilmuan saya yang masih dangkal, serta wawasan yang masih sempit. Saya percaya bahwa saat wawasan dan keilmuan saya sudah cukup matang, pasti akan terpikir metode yang tepat, bagaimana caranya agar keilmuan saya bermanfaat bagi masyarakat kecil.

Beberapa hari ini, saya berkesempatan untuk berdiskusi dan membaca hal-hal yang berkaitan dengan hal ini. Rupanya, banyak teman-teman di sekitar saya yang memiliki kegelisahan yang sama tentang hal ini. Tentang bagaimana keilmuan yang kami dalami selama kuliah, bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sekedar berpendapat, saya setuju ketika dibilang bahwa keilmuan informatika adalah keilmuan yang sifatnya supporting. Secara umum, keilmuan ini tidak begitu primer peranannya. Informatika biasanya dipakai sebagai otomatisasi atau mempercepat berbagai metode yang sudah ada. Biasanya, informatika dipakai sebagai 'pembantu' belaka. Dan, informatika biasanya bisa diaplikasikan jika infrastruktur yang menunjangnya sudah siap, atau minimal ada.

Nah, beberapa waktu ini, saya mulai kepikiran sesuatu. Memang IF tidak bisa menyentuh masyarakat kecil yang kemungkinan besar belum punya infrastrukturnya. Memang IF mungkin sebatas hanya sebagai 'pembantu' dalam sebuah sistem. Tapi ini yang menarik. Pendekatannya kita ubah. Kita tidak membantu masyarakat secara langsung. Kita bantu orang-orang/organisasi yang fokusnya jadi pembantu masyarakat secara langsung.

Dua hal yang bisa kita dekati/bantu. Yang pertama, pemerintah. Ini yang coba diaplikasikan oleh Kak Pandu dan beberapa teman, ketika menggagas Code For Bandung(CFB). Bagaimana caranya, pemuda-pemuda yang tanggap dan sedikit banyak berwawasan dalam bidang IT, bisa membantu pemerintah dalam melayani masyarakatnya.

Yang kedua, pendekatan kepada komunitas. Saat ini, rasanya sudah cukup banyak komunitas peduli yang bergerak pada bidangnya masing-masing. Komunitas yang fokus pada pendidikan, anak-anak, kesehatan, lingkungan hidup, dll rasanya sudah cukup banyak ada. Nah, di sini peran anak-anak IF. Kita bisa membantu mereka untuk melaksanakan kegiatan/fokus mereka. Kita bisa bangun sistemnya, kita bisa buat perangkat lunak yang bisa saja membantu pekerjaan mereka. Harapannya, dengan hal ini kita membantu mereka agar lebih mudah membantu masyarakat yang ingin mereka layani.

Hal ini bisa dicontohkan dari cerita kak Ali kemarin.

---

Inovasi Sehat Indonesia bekerja di bidang kesehatan, dan fokusnya (saya ga tau satu-satunya, atau salah satu) adalah di TB. Menurut penuturan kak Ali, TB termasuk penyakit yang serem : No.3 penyakit mematikan, No.1 untuk penyakit menular. TB itu bisa diidentifikasi dari dahak yang dikeluarkan ketika si penderita batuk.

Nah, gagasan atau hal yang dikerjakan oleh kak Ali dengan kondisi ini adalah dengan membantu mempercepat analisa dahak. Biasanya, analisa dahak bisa memakan waktu 1 minggu untuk keluar, namun dengan pemanfaatan IT (saya kurang tau teknisnya), analisa tersebut bisa diringkas menjadi 2 jam saja.

Sebegitu membantunya ternyata keilmuan saya ini :')

Tidak ada komentar: