Sabtu, 08 November 2014

Alasan

Seorang teman bertanya, kenapa kita harus shalat sih?

Seorang teman lagi menjawab, "Karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar"

Teman yang tadi tidak terlihat puas dengan jawaban teman yang satunya lagi.
...


Alasan
Sering kali kita diingatkan untuk mengetahui alasan kita melakukan sesuatu. Sering kali, saat kita tidak punya alasan kuat untuk melakukan sesuatu, kita mudah goyah. Kita gampang berpindah-pindah hati, dari yakin jadi ragu, dari ingin jadi malas, dari semangat jadi loyo.

Semuanya karena sebuah alasan, yaitu Alasan.

Cerita
Berawal dari percakapan seperti di atas, terjadi diskusi antara saya dan teman-teman saya mengenai kenapa alasan kita beribadah. Diskusi cukup menarik, hingga salah seorang teman saya berkata, "Ooh, jadi kalo dalam ibadah kita mikirnya jangan kenapa. Tapi, apa hikmahnya."

Kebalik
Kesimpulan yang diambil teman saya tersebut sangat menarik bagi saya. Saya rasa pendapat itu benar. Benar sekali bahkan. Melalui kata-kata dia, saya kini berpikir bahwa alasan kita untuk melakukan sesuatu itu bisa terbagi dua : Kenapa ; Apa Hikmahnya?

Kenapa, adalah alasan kita yang menjadi trigger di awal sebelum kita melaksanakan sesuatu. Alasan yang menjadikan kita memutuskan apakah jadi kita melaksanakan hal tersebut.

Sementara, 'Apa Hikmahnya?' adalah alasan yang menjadi trigger kita, namun waktunya di akhir. Sesuatu yang sifatnya apa yang kita dapat. Kadang bukan sesuatu yang esensial sehingga banyak orang yang berpikir hal ini bukan alasan yang valid buat melakukan sesuatu.

Nah, dulu saya adalah orang yang cenderung bertanya 'Kenapa?' saat disuruh beribadah. Rasanya malas-malasan untuk beribadah karena akal belum bisa menerima, kenapa saya harus beribadah. Sampai suatu waktu, dosen Agama Islam saya berkata seperti ini

"Sebenarnya kita gak berhak untuk bertanya, kenapa sih kita harus shalat? Ketaqwaan itu bisa dilihat dari penghambaan. Nah, shalat, dalam hal ini, adalah bentuk penghambaan. Kenapa Allah nyuruh kita shalat, mungkin cuman Allah yang tahu. Sebagai hamba, kita seharusnya gak banyak tanya, dan lakukan aja"

Melalui pernyataan dosen dan kawan saya tadi, saya jadi paham bahwa seharusnya ketika saya ingin melakukan sebuah ibadah, daripada bertanya 'Kenapa?' lebih baik menerima dan memahami 'Apa hikmahnya?'. Jujur, takut ada sedikit terasa angkuh kala mempertanyakan 'kenapa?' untuk hal yang berkaitan dengan agama. Seolah-olah merasa keberatan atas ibadah yang disuruh untuk dilakukan.

Dalam Hidup
Nah, ini juga yang saya pikir bisa kita terapkan dalam hidup kita secara umum. Katanya kita tumbuh di zaman generasi Y, dimana orang-orang selalu butuh alasan untuk melakukan sesuatu. Selalu bertanya,"Kenapa saya harus ikutan?","Kenapa harus ada?", dll. Padahal menurut saya, selama hal yang kita lakukan itu baik, ya lakukan aja. Jadiin "Apa hikmahnya?" sebagai alasan. Gak mesti "kenapa?" mulu kok.

Salam.
Ditulis saat perut lapar, tapi takut makan karena berat badan 95 kg.

1 komentar:

cynthia chaniago mengatakan...

nice post sob..
article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
maju terus dan sukses selalu...
salam kenal yach...
kunjungi blog saya juga ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
agen situs poker online indonesia uang asli,poker online terpercaya dan teraman...
http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com dan https://www.facebook.com/pages/Benua-poker/683720458370743?fref=ts
serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/
di oliviaclub.com poker online uang asli terbaik di indonesia dengan teknologi teraman dan tercanggih.
main dan ajak teman anda bergabung dan dapatkan 20% referral fee dari house commision untuk turnover teman ajakan anda...