Rabu, 08 September 2010

Renungan : Begitu Dekat Jarak Hidup dan Mati...

Pernahkah anda merasa saat hidup ini tinggal menyisakan detik-detik terakhir? Detik-detik terakhir yang anda jalani dengan penuh penyesalan. Penyesalan atas apa yang selama ini telah kita lakukan...

Dan itulah yang pernah saya rasakan beberapa hari yang lalu. Saat itu, saya pulang les dengan mengendarai motor. Motor saya pastinya, bukan motor tetangga. Karena sudah dekat dengan waktu berbuka, saya memacu motor saya dengan kencang. Kebetulan jalan sepi.

Di tengah perjalanan, terlihat oleh saya, sebuah bayangan bola putih di helm saya. Saya pikir, ini adalah pantulan cahaya dari lampu jalan yang berwarna putih. Semakin dekat, bayangan itu tampak semakin jelas. Hingga saya menyadari bahwa itu bukan bayangan, melainkan sebuah bola putih.

Di tengah kecepatan yang lumayan kencang, saya teringat , saat saya dulu bermain bola. Kala itu bola keluar ke jalanan, tepat di depan sebuah mobil yang sedang melaju. Dan tentu, saat mobil itu menginjak bola itu, ban mobil itu terpelanting, namun karena mobil berban 4 tentu cepat stabil. Namun, apa yang akan terjadi jika sebuah sepeda motor? Sepeda motor yang berban 2....

Di saat itulah, badan saya merinding tak karuan. Saya merasakan , seolah telah siap liang kubur di hadapan kita. Kuburan yang telah siap, 'menerkam' kita sewaktu-waktu...

Namun, alhamdulillah, Allah masih memberikan saya kesempatan. Saat bola itu saya pijak, bola itu pecah. Ternyata hanya sebuah bola plastik.

Singkatnya saya akhirnya sampai di rumah saat buka telah berlalu. Terlambat untuk buka, saya hanya minum dan langsung shalat. Setelah selesai shalat, saya tidur dan menggalau di atas sajadah. Memikirkan apa yang terjadi tadi. Begitu dekat antara kehidupanmu sekarang dengan kematian. Hidup dan mati, hanya berjarak kurang dari 1/1000 detik. Mungkin saja, setelah saya menulis ini saya mati. Atau setelah anda membaca ini anda mati. Tak ada yang tahu selain Allah swt.

Begitu banyak waktu yang telah terbuang sia-sia. Begitu banyak kesempatan berbuat baik yang telah ku acuhkan. Begitu banyak pintu kejahatan yang telah termasuki.

Saya merasa ibadah shalat saya belumlah khusyuk dan jauh dari sempurna. Ibadah puasa, mungkin hanya sekedar menahan lapar dan haus. Apa yang telah saya lakukan selama ini, belumlah cukup menandingi dosa-dosa yang telah saya perbuat. Entah apa yang menolong saya di akhirat nanti....

Di sisa-sisa kehidupan ini, saya ingin berubah. Dan tolong, bantulah saya...

Tidak ada komentar: